Selasa, 17 Desember 2013

foto-foto terbaru jkt48


https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn1/1504139_445281925571882_665090274_n.jpg











Senin, 09 Desember 2013

Jadwal Pertandingan Timnas Indonesia U-23 di Sea Games Myanmar 2013, Posted by Putri Kurnia Posted on 11:07 A

Hai rakyat INDONESIA..
Berikut Jadwal Timnas Indonesia U-23 di SEA Games 2013.




09 Desember 2013:  Kamboja vs Indonesia - pukul 16.00 waktu setempat
12 Desember 2013:  Indonesia vs Thailand - pukul 16.00 waktu setempat
14 Desember 2013:  Timor Leste vs Indonesia - pukul 16.00 waktu setempat
16 Desember 2013:  Indonesia vs Myanmar - pukul 18.45 waktu setempat








Klasemen sementara Sea Games Myanmar 2013

 
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTVkKbkyqo2v9yNSZWsgQ-YrV_71MPqJTDn-X69FkC0oGYCDrVPEBlLkuEWAp3YfykwFZrYjSy4MCCPIqZfBBBXbd0wX6jlQ5TrpjFZtNz0P0XUNnd_hwKA3QW064OADgfgwDyfsK-cQ/s1600/Sea+Games+2013+Myanmar.jpg
 
Grup A
Team
Main
W
D
L
GF
GA
GD
Poin
Vietnam
1
1
0
0
7
0
+7
3
Laos
1
0
1
0
1
1
0
1
Singapura
1
0
1
0
1
1
0
1
Malaysia
0
0
0
0
0
0
0
0
Brunei
1
0
0
1
0
7
-7
0
Grup B
Team
Main
W
D
L
GF
GA
GD
Poin
Myanmar
1
1
0
0
3
0
+3
3
Thailand
1
1
0
0
3
1
+2
3
Indonesia
1
1
0
0
1
0
+1
3
Timor Leste
1
0
0
1
1
3
-2
0
Kamboja
2
0
0
2
0
4
-4
0

Berita terbaru BAMBANG PAMUNGKAS by sport satu.com

Persija Spesial di Hati, Bepe Mungkin Kembali

By on December 9, 2013
0
Bepe Belakang
Pemain anyar Pelita Bandung Raya, Bambang Pamungkas, tak menampik bisa saja kembali memperkuat Persija Jakarta di masa yang akan datang. Rasa cinta kepada Persija yang tak luntur turut menjadi faktor penyebab ia bisa kembali berkostum oranye ibukota.
Hal ini disampaikan Bepe, panggilan Bambang Pamungkas usai meneken kontrak dengan durasi satu tahun di Pelita Bandung Raya, Senin (9/12). Bagi Bepe, PBR merupakan klub kedua selama berkarier di sepak bola Indonesia.
“Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa akan datang. Akan selalu ada kemungkinan bagi saya untuk kembali ke Persija, mengingat tidak dapat dimungkiri bahwa Persija masih dan akan selalu memiliki tempat spesial di hati saya,” kata Bepe kepada SportSatu, Senin (9/12).
Bepe sendiri memang hanya memperkuat tim Persija saat tampil di kompetisi sepak bola Indonesia. Ia mulai bergabung sejak 1999.
Ia pernah berkiprah di klub lain, namun di luar tanah air, yaitu EHC Norad (2000), dan Selangor (2005-2007).
Bepe sebetulnya sempat akan bergabung ke Persija di awal putaran kedua musim 2012/13 setelah adanya permasalahan gaji dengan manajemen.
Namun, itu urung terealisasi karena adanya ketidaksepahaman dengan manajemen Persija. Bepe pun memilih tidak memperkuat klub manapun hingga akhir musim.

JKT 48 new photos














Rabu, 04 Desember 2013

Puisi buat Sahabat versi Anak IPA..


Haiiiiii para anak IPA semua.... Postingan saya kali ini akan membahas tentang Puisi versi Anak IPA..
cekidot..








Sahabat ku,
Senyummu laksana larutan basa yang mampu menitrasi kesaman kalbu ku..

Kesetiaan mu laksana larutan penyangga, yang selalu setia mempertahankan PH-nya dari asam maupun basa..

Kuatnya asam sulfat takkan mampu.. memisahkan ikatan ionik persahabatan kita..

Persahabatan kita Takkan terEksitasi oleh molekul manapun, Takkan teroksidasi oleh senyawa apapun, takkan teracuni oleh alkohol tau etnol manapunkita terhibridasi dalm ikatn persahbtan yng polr..

Kau adalah sahabat yang setia dalam keadaan Eksoterm maupun Endoterm.. . ^^



Sekian postingan dari saya kali ini..
semoga bermanfaat ya.. :)


SAMPAI JUMPA LAGI DI  www.nazrielpradana97.blogspot.com

Senin, 25 November 2013

Anneeeehhhh bbeeeuudddzzzttt...


Pasoepati Surakarta

Minggu, 24 November 2013

New Photo from JKT48 on facebook















ALAS KAKI, apapun nama, bentuk, atau modelnya, telah begitu lekat dengan kaki semua orang. Namun, keakraban kaki dengan pembungkusnya itu tidak dialami dengan mudah oleh banyak orang sebelum tahun 1882. Tepatnya, ketika Jan Ernst Matzeliger, pekerja di sebuah pabrik sepatu di Amerika, menemukan mesin pembuat sepatu. Dengan ditemukannya mesin-mesin pembuat sepatu yang lain, dimulailah produksi masal sepatu, sehingga harganya pun menjadi terjangkau. Orang tak perlu lagi membuat sendiri atau repot memesan pada tukang sepatu keliling.


Namun, untuk sampai pada tahap itu, sepatu mengalami perjalanan yang sangat panjang. Ribuan tahun yang lalu, kulit binatang mentah dipilih untuk pembungkus tubuh dan kaki manusia.


Bila didaerah dingin pembungkus itu berbentuk sepatu, masyarakat di daerah panas lebih menyukai sandal. Orang Mesir kuno di tahun 3700 SM misalnya, sudah mengenakan sandal dari serat tanaman atau kulit binatang.


Bahan dasarnya tergantung pada materi yang tersedia dan kondisi alamnya. Sepatu kayu misalnya, sangat populer di Benua Eropa yang banyak berhutan. Sedangkan klompen kayu (semacam "sepatu" bakiak) banyak ditemukan di negara-negara bercuaca hangat seperti Timur Tengah, India dan Jepang. Bila mokasin (sepatu yang dibuat dari selembar bahan sehingga tidak ada jahitan antara sol dengan bagian atas sepatu) dari kulit pohon jadi alas kaki masyarakat Skandinavia, maka sandal jerami dan sepatu kain dapat dijumpai menghiasi kaki masyarakat Korea dan Cina. Khusus masyarakat di wilayah bercuaca sangat dingin, sepatu bot banyak dipakai. Orang Tibet, Bhutan, dan Nepal di sekitar Himalaya, misalnya, sangat akrab dengan sepatu bot dari kulit yak.


Alas kaki ternyata tidak selalu dianggap penting, apalagi oleh masyarakat wilayah yang banyak disinari matahari. Pada lukisan dinding dari zaman Mesir kuno, hanya para raja dan pendeta yang mengenakan alas kaki - itu pun berupa sandal - yang terbuat dari jalinan alang-alang, atau sandal kulit seperti yang terbuat dari jalinan alang-alang, atau sandal kulit seperti yang dikenakan Tutankhamen, salah satu firaun Mesir.


Bagi serdadu Yunani kuno, sandal malah punya fungsi yang amat khusus. Mereka hanya mengenakan satu pada kaki kiri. Saat perkelahian satu lawan satu, karena perisai dibawa dengan tangan kiri, kaki kiri itu selalu siap maju, kalau perlu menendang selangkangan lawan. Nah, tendangan dengan sandal tentu lebih afdol.


Pada abad IV, sepatu yang dihias dengan indah banyak ditemukan di Bizantium. Model sepatu dengan ujung panjang muncul di akhir abad IV sampai abad XV. Maklum, mode topi dan hiasan kepala saat itu juga runcing-runcing. Ada sepatu seorang pangeran yang panjang ujungnya 60 cm. Untuk mempertahankan bentuknya tentu saja mesti disumpal serat atau jerami. Sepatu demikian disebut poulainne atau crakow, mungkin indikasi tempat asalnya: Polandia. Supaya praktis, ujung sepatu diikat dengan rantai ke pangkal sepatu di tulang kering. Oleh Edward IV, raja Inggris 1442-1483, ujung sepatu lalu di batasi maksimal 5 cm saja.


Pada abad XVII lahir model sepatu berhak tinggi dengan pita. Tahun 1660 Louis XIV, raja Prancis yang terkenal suka kemewahan dan keindahan, mendapat hadiah sepasang sepatu berhak tinggi dengan pita sepanjang 40 cm. Tetapi haknya dibuat melengkung untuk disesuaikan dengan tubuh Louis yang pendek. Meski tak praktis dan membuat pemakainya bisa tersandung, model itu sangat disukai raja dan kerabatnya.


Pada abad XVIII sepatu mencapai puncak kecentilannya. Ada yang dihiasi kain brokat, atau kulit anak kambing yang lembut, entah dibordir atau dihiasi manik-manik. Ujungnya runcing, haknya tinggi melengkung. Bahkan ada yang dihiasi gesper bertatahkan berlian.


Kini perkembangan pengetahuan yang begitu pesat menyentuh pula bidang pembuatan sepatu. Proses rancang-merancang dilakukan dengan bantuan komputer, sedangkan sinar laser digunakan untuk memotong bahan dengan cepat dan tepat
- See more at: http://adhiekloperer.blogspot.com/2012/03/sejarah-penciptaan-sepatu.html#sthash.k84O7wTJ.dpuf

ALAS KAKI, apapun nama, bentuk, atau modelnya, telah begitu lekat dengan kaki semua orang. Namun, keakraban kaki dengan pembungkusnya itu tidak dialami dengan mudah oleh banyak orang sebelum tahun 1882. Tepatnya, ketika Jan Ernst Matzeliger, pekerja di sebuah pabrik sepatu di Amerika, menemukan mesin pembuat sepatu. Dengan ditemukannya mesin-mesin pembuat sepatu yang lain, dimulailah produksi masal sepatu, sehingga harganya pun menjadi terjangkau. Orang tak perlu lagi membuat sendiri atau repot memesan pada tukang sepatu keliling.


Namun, untuk sampai pada tahap itu, sepatu mengalami perjalanan yang sangat panjang. Ribuan tahun yang lalu, kulit binatang mentah dipilih untuk pembungkus tubuh dan kaki manusia.


Bila didaerah dingin pembungkus itu berbentuk sepatu, masyarakat di daerah panas lebih menyukai sandal. Orang Mesir kuno di tahun 3700 SM misalnya, sudah mengenakan sandal dari serat tanaman atau kulit binatang.


Bahan dasarnya tergantung pada materi yang tersedia dan kondisi alamnya. Sepatu kayu misalnya, sangat populer di Benua Eropa yang banyak berhutan. Sedangkan klompen kayu (semacam "sepatu" bakiak) banyak ditemukan di negara-negara bercuaca hangat seperti Timur Tengah, India dan Jepang. Bila mokasin (sepatu yang dibuat dari selembar bahan sehingga tidak ada jahitan antara sol dengan bagian atas sepatu) dari kulit pohon jadi alas kaki masyarakat Skandinavia, maka sandal jerami dan sepatu kain dapat dijumpai menghiasi kaki masyarakat Korea dan Cina. Khusus masyarakat di wilayah bercuaca sangat dingin, sepatu bot banyak dipakai. Orang Tibet, Bhutan, dan Nepal di sekitar Himalaya, misalnya, sangat akrab dengan sepatu bot dari kulit yak.


Alas kaki ternyata tidak selalu dianggap penting, apalagi oleh masyarakat wilayah yang banyak disinari matahari. Pada lukisan dinding dari zaman Mesir kuno, hanya para raja dan pendeta yang mengenakan alas kaki - itu pun berupa sandal - yang terbuat dari jalinan alang-alang, atau sandal kulit seperti yang terbuat dari jalinan alang-alang, atau sandal kulit seperti yang dikenakan Tutankhamen, salah satu firaun Mesir.


Bagi serdadu Yunani kuno, sandal malah punya fungsi yang amat khusus. Mereka hanya mengenakan satu pada kaki kiri. Saat perkelahian satu lawan satu, karena perisai dibawa dengan tangan kiri, kaki kiri itu selalu siap maju, kalau perlu menendang selangkangan lawan. Nah, tendangan dengan sandal tentu lebih afdol.


Pada abad IV, sepatu yang dihias dengan indah banyak ditemukan di Bizantium. Model sepatu dengan ujung panjang muncul di akhir abad IV sampai abad XV. Maklum, mode topi dan hiasan kepala saat itu juga runcing-runcing. Ada sepatu seorang pangeran yang panjang ujungnya 60 cm. Untuk mempertahankan bentuknya tentu saja mesti disumpal serat atau jerami. Sepatu demikian disebut poulainne atau crakow, mungkin indikasi tempat asalnya: Polandia. Supaya praktis, ujung sepatu diikat dengan rantai ke pangkal sepatu di tulang kering. Oleh Edward IV, raja Inggris 1442-1483, ujung sepatu lalu di batasi maksimal 5 cm saja.


Pada abad XVII lahir model sepatu berhak tinggi dengan pita. Tahun 1660 Louis XIV, raja Prancis yang terkenal suka kemewahan dan keindahan, mendapat hadiah sepasang sepatu berhak tinggi dengan pita sepanjang 40 cm. Tetapi haknya dibuat melengkung untuk disesuaikan dengan tubuh Louis yang pendek. Meski tak praktis dan membuat pemakainya bisa tersandung, model itu sangat disukai raja dan kerabatnya.


Pada abad XVIII sepatu mencapai puncak kecentilannya. Ada yang dihiasi kain brokat, atau kulit anak kambing yang lembut, entah dibordir atau dihiasi manik-manik. Ujungnya runcing, haknya tinggi melengkung. Bahkan ada yang dihiasi gesper bertatahkan berlian.


Kini perkembangan pengetahuan yang begitu pesat menyentuh pula bidang pembuatan sepatu. Proses rancang-merancang dilakukan dengan bantuan komputer, sedangkan sinar laser digunakan untuk memotong bahan dengan cepat dan tepat
- See more at: http://adhiekloperer.blogspot.com/2012/03/sejarah-penciptaan-sepatu.html#sthash.k84O7wTJ.dpuf

Sabtu, 23 November 2013

Lucu by Nazriel Bayu Pradana


























































 
Copyright © 2010 Bayunanablog | Design : Noyod.Com | Images : Red_Priest_Usada, flashouille